02/06/16

Suku Osing

Pembagian Waris Suku Osing 
Masyarakat suku Osing mayoritas beragama Islam. Walaupun demikian 
dalam pembagian waris masyarakat desa Krmiren mayoritas tidak 
menggunakan hukum waris  Islam. Masyarakat Osing memiliki tradisi yang 
tidak jauh berbeda dengan tradisi masyarakat Jawa pada umumnya, nampak 
pada adat pembagian waris yang dianut, yakni sistem Bilateral yang berarti 
bahwa sistem pertalian keluarga atau keturunan menurut garis bapak atau 




Rumah Tradisional Osing


Osing merupakan salah satu komunitas etnis yang berada di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Dalam lingkup lebih luas, Osing merupakan salah satu bagian sub-etnis Jawa. Dalam peta wilayah kebudayaan Jawa, Osing merupakan bagian wilayah Sabrang Wetan, yang berkembang di daerah ujung timur pulau Jawa.

Masyarakat Osing saat ini sebagian besar adalah pemeluk agama Islam, yang memiliki latarbelakang agama Hindu yang cukup kuat, yaitu pada masa Kerajaan Hindu Ciwa. Oleh karena itu, maka tradisi-tradisi yang mengandung nilai-nilai Hindu tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, bahkan ajaran Islam berjalan beriringan dengan adat-istiadat yang ada. Beberapa desa yang masih memperlihatkan kekhasan budaya Osing, bahkan disebut sebagai pusat komunitas Osing adalah Desa Kemiren, Kecamatan Glagah dan Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi. Hal itu setidaknya ditunjukkan dengan masih adanya salah satu wujud fisik kebudayaannya, yaitu rumah Osing.



Seni Tari Banyuwangi
Konsep tata ruang dalam seperti rumah di Jawa umumnya yang menganggap bagian dalam rumah adalah sesuatu yang privat, namun yang membedakannya dengan adanya sejarah yang kelam menjadikan rumah bersifat tertutup. Penerapannya adalah tidak ada jendela, sehingga sirkulasi udara dan pencahayaan kurang. Hal ini secara kosmologis tidak serta merta ruang dalam rumah seperti ‘rahim ibu’ sebagai tempat mencari ketenangan (istirahat). Pola ruang dalam linear mulai dari pintu masuk depan berada ditengah dan membagi sisi rumah secara simetris ketika memasuki rumah, bagian depan rumah yaitu bale (bersifat publik, profan dan cahaya cukup terang). Pada bagian lebih dalam yaitu jrumah atau inti rumah, bagian ini hanya bisa diakses oleh penghuni dan kerabat karena sifatnya privat atau orang lain dengan seizin pemilik. Ruang ini gelap tanpa ada pencahayaan alami. Selanjutnya adalah pawon atau dapur dengan sifat ruang servis/semiprivat, cahaya bisa masuk pada pintu belakang sehingga cukup terang. Dapur juga sering dipakai untuk persiapan acara selamatan penduduk. Jika pemilik cukup kaya, ada ruang transisi antara jrumah dan pawon yaitu pendopo yang fungsinya seperti ruang keluarga. Ruang dalam juga menganut prinsip dualitas dan sentralitas.

Perubahan pola ruang terjadi setelah kemerdekaan, pada masa sebelumnya adalah kebalikan dengan arah orientasi membelakangi jalan dan menghadap sawah dan ladang. Pawon berada di bagian depan dengan tujuan menyamarkan bale sebagai ruang pertemuan, dengan dinding depan dilengkapi dengan roji yang berguna untuk mengintip situasi di luar rumah. Perubahan pola ruang di dalam rumah tidak berpengaruh terhadap pola permukiman secara fisik tetapi berpengaruh terhadap pola pergerakan masyarakat di dalam permukiman masyarakat.   

Perdukunan, Paranormal dan Pembantaian

Nilai Guna Rumah Osing

Konsep tata ruang dalam seperti rumah di Jawa umumnya yang menganggap bagian dalam rumah adalah sesuatu yang privat, namun yang membedakannya dengan adanya sejarah yang kelam menjadikan rumah bersifat tertutup. Penerapannya adalah tidak ada jendela, sehingga sirkulasi udara dan pencahayaan kurang. Hal ini secara kosmologis tidak serta merta ruang dalam rumah seperti ‘rahim ibu’ sebagai tempat mencari ketenangan (istirahat). Pola ruang dalam linear mulai dari pintu masuk depan berada ditengah dan membagi sisi rumah secara simetris ketika memasuki rumah, bagian depan rumah yaitu bale (bersifat publik, profan dan cahaya cukup terang). Pada bagian lebih dalam yaitu jrumah atau inti rumah, bagian ini hanya bisa diakses oleh penghuni dan kerabat karena sifatnya privat atau orang lain dengan seizin pemilik. Ruang ini gelap tanpa ada pencahayaan alami. Selanjutnya adalah pawon atau dapur dengan sifat ruang servis/semiprivat, cahaya bisa masuk pada pintu belakang sehingga cukup terang. Dapur juga sering dipakai untuk persiapan acara selamatan penduduk. Jika pemilik cukup kaya, ada ruang transisi antara jrumah dan pawon yaitu pendopo yang fungsinya seperti ruang keluarga. Ruang dalam juga menganut prinsip dualitas dan sentralitas.

Perubahan pola ruang terjadi setelah kemerdekaan, pada masa sebelumnya adalah kebalikan dengan arah orientasi membelakangi jalan dan menghadap sawah dan ladang. Pawon berada di bagian depan dengan tujuan menyamarkan bale sebagai ruang pertemuan, dengan dinding depan dilengkapi dengan roji yang berguna untuk mengintip situasi di luar rumah. Perubahan pola ruang di dalam rumah tidak berpengaruh terhadap pola permukiman secara fisik tetapi berpengaruh terhadap pola pergerakan masyarakat di dalam permukiman masyarakat.   


Perdukunan, Paranormal

Pedukunan di dalam Suku Osing biasanya memakai mantra-mantra, Tradisi bermantra sebenarnya sejak lama telah mengakar kuat dalam kehidupan kelompok etnik Using. Pada dasarnya, masyarakat Using memiliki berbagai macam mantra. Namun secara garis besar dapat dipilah menjadi tiga jenis. Pertama, mantra berjenis santet yang berfungsi sebagai pengasihan- kemudian dikenal dengan istilah – magi kuning jika mengandung positif dan magi merah jika mengandung negative. Kedua, mantra berjenis sihir yang bersifat merusak dan berpotensi menghilangkan nyawa- kemudian dikenal dengan istilah – magi hitam. Ketiga, mantra yang bersifat positif, yakni mantra yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit- kemudian dikenal dengan istilah magi putih.
Paranormal suku Osing terkenal akan kekuatan menjalankan ilmu hitamnya dari jarak jauh, dimana melalui ilmu gaib itu mereka bisa menyembuhkan maupun menghancurkan apa pun atau siapa pun yang bersangkutan.

0 komentar:

Posting Komentar